Mengenal Tarian pamonte pada Karnaval kebhinekaan di SMP Model terpadu Madani

Penari pamonte


Kemajemukan bangsa Indonesia yang tak dimiliki oleh bangsa lain ini, menjadi modal sosial dengan konstruksi berbasis kearifan lokal. Heterogenitas bangsa Indonesia sebagai bangsa yang beradab tersebut tentunya harus dijaga dan dilestarikan sebagai khasanah budaya nasional. Dalam konteks hubungan sosial (interaksi sosial) baik secara horizontal maupun vertikal dalam realita pluralitas tersebut, dibutuhkan instrumen pendidikan yang berkarakter terbuka, inklusif, toleran dan pluralis. Bahasa pendidikan sebagai media sosio-kultur menjadi jembatan antara realita sosial dengan sikap yang mesti ditunjukan oleh masyarakat, dalam hal ini adalah warga sekolah seperti guru dan siswa.

Sebagai upaya dalam menjaga dan melestarikan budaya nasional siswa/i mementas kan beberapa kesenian dari berbagai daerah, namun fokus utama dari artikel ini yaitu Keunikan Tarian Pamonte Pada Karnaval Kebhinekaan di SMP Model Terpadu Madani.
Tari Pamonte adalah salah satu tarian tradisional Indonesia yang berasal dari Sulawesi Tengah.

Makna Tarian Pamonte adalah menggambarkan kehidupan masyarakat pada saat musim panen padi tiba. Di mana mereka memetik serta menuai padi secara gotong. Tari Pamonte juga menggambarkan kegembiraan dan ungkapan rasa syukur atas panen yang mereka dapatkan. Rasa bahagia dilakukan dengan saling bergotong-royong dan bahu-membahu. Sehingga terlarut dalam semangat kebersamaan yang tinggi dan penuh sukacita.

Sumber: https://youtu.be/SzdzKwaBGx8

Implementasi Pendidikan Multikultural dalam katnaval kebhinekaan di SMP Model Terpadu Madani

Karnaval kebhinekaan-SMPN Model Terpadu Madani

Perkembangan pendidikan yang semakin maju dan pesatnya, sekolah semakin banyak dan mudah diakses, setiap kota tumbuh sekolah- sekolah baru dengan karakter- karakter yang unik dan menonjol salah satunya adalah SMP Model Terpadu Madani. Dengan komitmen yang tinggi SMP Model Terpadu Madani mempunyai impian dan cita-cita untuk mengembangkan potensi anak-anak bangsa agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu,cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab dengan skill yang mumpuni.

Pendidikan multikultural menawarkan satu alternatif melalui penerapan strategis dan konsep pendidikan yang berbasis pada pemanfaatan keragaman yang ada dimasyarakat, khususnya yang ada pada siswa seperti pada keragaman etnis, budaya, bahasa, agama dan ras. Yang terpenting, strategi pendidikan ini tidak hanya bertujuan agar supaya siswa mudah memahami pelajaran yang dipelajarinya, akan tetapi juga untuk meningkatkan kesadaran mereka agar selalu berperilaku humanis, pluralis, dan demokratis.

Meninjau kembali hasil observasi yang kami lakukan pada tanggal 20 september 2022 Di SMP MODEL Terpadu Madani Implementasi pendidikan multiktural yang kami lihat 3 sisi yakni dari sisi HAM, Demokrasi dan Kebebasan dalam beragama. Di mana dalam perbedaan agama, ras, suku, budaya maupun etnis mereka bisa hidup berdampingan tanpa ada permasalah yang serius. Jika di kaji dalam sisi demokrasi nya terbukti mereka dapat menjalan kan dan melaksanakan demokrasi yang baik tanpa melihat suku dan agama nya, sebab pada pemilihan ketua osis yang dapat di ketahui bersama bahwa di SMP Model terpadu Madani itu mayoritas islam, namun ketua yg terpilih berasal dari agama Hindu mereka memilih ketua osis tidak berdasar kan agama, suku, ras, budaya mau pun etnis melainkan karena etos kerja calon pemimpin nya.

Pada hari selasa 13 Desember sy kembali melakukan observasi terkait hal tersebut dan berpas-pasan dengan di adakan nya Karnaval Kebinekaan. Dengan menggunakan tema Kebinekaan segala jenis perbedaan di SMP model Terpadu Madani di jadi kan sebagai penguat bahwa yang berbeda itu bukan menjadi halangan untuk berkembang, belajar, dan berkreasi di SMP Model Terpadu Madani. Di karnaval tersebut juga di pentas kan beberapa keseniaan sebagai ajang untuk mengembangkan minat dan bakat peserta didik untuk memenuhi hak-hak peserta didik.

Tabe…!!! Kearifan Lokal Masyarakat Suku bugis

Seperti yang kita ketahui, masyarakat Indonesia sangat beragam. Ada banyak suku, bangsa, bahasa, adat istiadat, dan kesenian.  Budaya menghargai menjadi sikap langka yang sangat penting dan hurus dikembangkan kembali. “Tabe” merupakan salah satu contohnya terutama untuk wilayah pulau sulawesi.

“Tabe” adalah sikap minta permisi untuk melewati arah orang lain, dengan kata-kata “tabe” kata tersebut diikuti gerakan tangan kanan turun kebawah dengan melihat pada orang-orang yang dilewati lalu memberikan senyuman. makna dari perilaku  seperti demikian adalah bahwa “Tabe” simbol dari upaya menghargai dan menghormati siapapun orang dihadapan kita.

Budaya “Tabe”  perlahan-lahan mulai tenggelam dalam masyarakat, khususnya pada kalangan anak-anak dan remaja bahkan sering ditemukan pada kalangan mahasiswa. Entahlah.. apakah ini karena kesalahan orang tua yang tidak mengajarkan nya atau karena budaya Barat yang telah mengkontaminasi pemikiran mereka. Mereka tidak lagi menghargai orang yang lebih tua dari mereka, bahkan yang sering saya temukan banyak anak-anak yang memakai kata ‘BROO’ untuk menyapa orang yang lebih tua dari mereka, melewati orang tanpa permisi, bahkan kepada orangtua mereka sendiri.

Budaya “Tabe’’ sangat berperan penting dalam pembentukan karakter anak dalam sifat santun dan hormat. Oleh karena Menanamkan sikap “Tabe”  ini dalam menghormati orang yang lebih tua harus selalu diingat dan diutamakan . Sebab “Tabe” merupakan kecerdasan sikap yang akan membentuk dan mendidik anak-anak atau generasi muda agar tercipta Nilai-nilai bangsa yang saling menghormati.

Budaya menghargai jika terealisasikan dengan baik akan mencegah banyak keributan dan akan mempererat rasa persaudaraan. Bahkan saya yakin  jika budaya “Tabe” direalisasikan dalam masyarakat maka tidak ada tempat bahkan alasan untuk terjadi konflik.

Untuk realisasi budaya Tabe sederhanya bisa kita lihat di dalam lingkungan keluarga, jika yang muda lewat di depan orang yang lebih tua maupun sebalik nya mereka mengucap kan kata tabe dan menurun kan tangan kanan nya. Sehingga, kita merasa di hormati/di hargai oleh org yang lewat.

Pedidikan Multikultural di rumah

ilustrasi keluarga (Thinkstock/Wavebreakmedia)

Keluarga merupakan institusi pendidikan pertama dan utama bagi anak. Disinilah berbagai macam karakter dan budaya anak dibentuk. Pendidikan di keluarga menentukan kelanjutan pendidikan bagi seorang anak karena pendidikan yang berlangsung dalam keluarga merupakan basis pembentukan anak yang berkualitas dan bermoral, sesuai dengan harapan yang didambakan orang tua.
Orang tua harus dapat meningkatkan kualitas anak dengan menanamkan nilai-nilai yang baik dan akhlak yang mulia disertai dengan ilmu pengetahuan agar dapat tumbuh manusia yang mengetahui kewajiban dan hak haknya
Ada pun cara simple yang bisa di lakukan orang tua untuk menanam kan pendidikan multikultural di dalam keluarga yaitu
1. Menanamkan Rasa cinta terhadap keluarga sehingga tidak ingin berpisah dari keluarga.
2. Membantu satu sama lain walaupun kita sedang melakukan hal lain.
3. Menghormati orang tua sehingga orang tua akan lebih menyanyangi anaknya sendiri.

Selain itu hal yang lebih mudah ialah menjadikan diri orang tua sebagai contoh yang baik di depan anak-anak. Karena pada dasar nya anak-anak ialah peniru yang handal.

Mengenal perbedaan istilah yang menyatukan dalam permainan latto-latto

Sumber: Ig- soloindahcv

Bicara soal permainan, mungkin anak-anak jaman sekarang akan lebih banyak membicarakan nama video game atau permainan modern lainnya.

Munculnya sejumlah alat teknologi membuat permainan tradisional tergeser. Padahal, permainan tradisional lebih mudah, hemat biaya, mengutamakan kebersamaan, kecerdasan, dan ketangkasan.Tradisi permainan tradisional merupakan aset warisan budaya yang tidak ternilai harganya. Di dalamnya terkandung  nilai-nilai, seperti nilai sosial yang mengajarkan kekompakan, kerjasama, solidaritas, tolong menolong, hingga mampu menerima kekalahan.

Indonesia terdiri dari berbagai macam suku bangsa dan hampir di setiap wilayah nya mempunyai permainan tradisional. Di wilayah sulawesi selatan sendiri ada sebuah permainan tradisional bernama latto-latto.

Dengan muncul nya Tren permainan latto-latto ini bisa membuat anak-anak untuk mengurangi penggunaan gadget.
Nama latto-latto diambil dari bunyi yang ditimbulkan ketika alat itu dimainkan. Orang Bugis menyebutnya “malletto-letto”, sedangkan orang Makassar menyebut “allatto-latto”. Namun, di beberapa daerah lain mempunyai penyebutan yang berbeda misal nya untuk orang kaili menyebut nya “Tekku-tekku” dan orang pamona menyebut nya ” Katto-katto”. Namun, perbedaan penyebutan bukan berarti halangan untuk memain kan permainan tersebut secara bersama-sama. Bahkan, terkadang di kalangan anak kecil permainan latto-latto bisa menjadi ajang untuk menambah teman baru. Mereka memainkan nya dalam bentuk grombolan dan saling adu kecepatan dan ketahanan dalam memain kan nya. Gerombolan anak-anak mengayunkan latto-latto nya. Mereka tampak asik. Suara latto-latto pun bukan hanya bisa di dengar di lingkungan sekitar rumah, bahkan dalam lingkungan kampus pun bisa di dengar. Anak-anak, remaja dan orang tua mulai menggemari permainan ini bahkan di berbagai tempat sudah banyak yang melombakan permainan latto-latto ini.

Demam latto-latto yang kini melanda anak-anak setidaknya menjadi hiburan tersendiri bagi mereka. 





Sumber:
Arone D. Awing (2022) Praduga Tak Bersalah ki Permainan Latto-Latto. https://bugispos.com/2022/11/26/praduga-tak-bersalah-ki-permainan-latto-latto/. Di akses pada 08 Desember 2022 pukul 19.32

Konsep pembelajaran Multikultural

Semakin banyak generasi yang sadar akan pentingnya menjaga perdamaian, semakin kecil kemungkinan terjadi tindakan diskriminasi, baik rasial maupun etnosentrisme.

Pembelajaran berbasis multikultural berusaha memberdayakan siswa untuk mengembangkan rasa hormat kepada orang yang berbeda budaya, memberi kesempatan untuk bekerja bersama dengan orang atau kelompok orang yang berbeda etnis atau rasnya secara langsung

Karakteristik pendidikan multicultural adalah:
1) Berprinsip pada demokrasi, kesetaraan, dan keadilan
2) Berorientasi pada kemanusiaan, kebersamaan dan kedamaian
3) Mengembangkan sikap mengakui, menerima dan menghargai keragaman.

Pendidikan multikultural ini diberikan dengan tujuan untuk menjelaskan pentingnya menjaga nilai-nilai keberagaman yang ada di Indonesia serta menegakkan sikap toleransi. Bukan hanya itu, terdapat beberapa tujuan pendidikan multikultural lain yang yang memberikan manfaat tersendiri bagi seluruh pelajar di Indonesia.

Prinsip multikulturalisme mengajarkan kepada kita untuk mengakui berbagai potensi dan legitimasi keragaman dan perbedaan sosio-kultural tiap kelompok etnis. Berangkat dari prinsip demikian maka individu maupun kelompok dari berbagai etnik dalam pandangan ini bisa bergabung dalam masyarakat, terlibat dalam societal cohesion tanpa harus kehilangan identitas etnis dan budaya mereka, sekaligus tetap memperoleh hak-hak mereka untuk berpartisipasi penuh dalam berbagai bidang kegiatan masyarakat. Sehingga keberagaman budaya yang ada di belakang, di depan dan disekeliling kita bisa memberikan sumbangan yang paling berharga bagi semua orang.

Pendidikan multikultural sekurang-kurangnya memiliki lima tujuan. Pertama, meningkatkan pemahaman diri dan konsep diri secara baik. Kedua, meningkatkan kepekaan dalam memahami orang lain, termasuk terhadap berbagai kelompok budaya di negaranya sendiri dan Negara lain. Ketiga, meningkatkan kemampuan untuk merasakan dan memahami kemajemukan, dapat meng-interpretasi-kan tentang kebangsaan dan budaya yang kadang-kadang bertentangan menyangkut sebuah peristiwa, nilai dan perilaku. Keempat, membuka pikiran ketika merespon isu. Kelima, memahami latar belakang munculnya pandangan klise atau kuno, menjauhi pandangan stereotype dan mau menghargai semua orang.

Problemmatika pendidikan dalam keberagaman budaya

Secara generik, pendidikan multikultural sebagai sebuah konsep yang dibuat dengan tujuan untuk menciptakan persamaan peluang pendidikan bagi semua siswa ,warga masyarakat yang berbeda ras, etnis, kelas sosial dan kelompok budaya. Salah satu tujuan penting dari konsep pendidikan multikultural adalah untuk membantu semua siswa agar memperoleh pengetahuan, sikap dan ketrampilan yang diperlukan dalam menjalankan peran-peran seefektif mungkin pada masyarakat demokrasi pluralistik serta diperlukan untuk berinteraksi, negosiasi, dan komunikasi dengan warga dari kelompok beragam agar tercipta sebuah tatanan masyarakat bermoral yang berjalan untuk kebaikan bersama.


Berbagai masalah yang timbul di negara kita, Indonesia, dikarenakan adanya keberagaman budaya yang pada dasarnya Indonesia adalah negara yang terdiri dari berbagai latar belakang sosial budaya meliputi ras, suku, agama, status sosial, mata pencaharian dan lain-lain. Berbagai masalah yang timbul tersebut yang akhirnya menjadi konflik berkepanjangan

Bhinneka Tunggal Ika adalah semboyan dari Negara Indonesia yang berarti berbeda-beda tapi tetap satu jua. Hal ini sudah jelas menandakan bahwa Indonesia merupakan negara yang memiliki keragaman budaya, suku bangsa, agama, bahasa, dan sebagainya. Keragaman di Indonesia telah memunculkan kebhinekaan yang menjadi ciri dan arakteristik, tatapi bisa memunculkan beberapa persoalan, misalnya problematika antar suku, separatisme, dan hilangnya toleransi dalam menghormati hak-hak orang lain. Untuk memecahkan masalah tersebut, maka dibutuhkan suatu solusi, salah satunya adalah pendidikan yang bersifat multikultural.

Dalam studi sosial, ajakan agar selalu hidup berdampingan secara damai (koeksistensi damai) ini merupakan bentuk sosialisasi nilai yang terkandung dalam multikulturalisme. Kesadaran akan pentingnya kemajemukan mulai muncul seiring gagalnya upaya nasionalisme negara, yang dikritik karena dianggap menekankan kesatuan daripada keragaman. Bertolak dari kenyataan ini, kini dirasakan semakin perlunya kebijakan multikultural yang memihak keragaman. Tetapi, dalam implementasinya pendidikan multikultural berhadapan dengan beragam problem di masyarakat, yang menghambat penerapan pendidikan multikultural di dalam ranah pendidikan.

Problem-problem tersebut antara lain: tenaga pendidik kurang mengenal tentang budayanya, budaya etnis maupun budaya yang miliki siswanya, tenaga pengajar belum mengusai garis besar dari struktur dan budaya lokal siswanya, dan terakhir rendahnya kemampuan guru dalam menyiapkan media pembelajaran yang mampu merangsang minat, ingatan maupun pengenalan dalam konteks budaya dari masing — masing siswanya. Salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk mengatasi praktik dan problematic dari pembelajaran pendidikan multikultural, yaitu dengan cara mengintegrasikan materi pendidikan multikultural ke dalam kurikulum ataupun pembelajaran yang ada disekolah yang diperkiraan relevan untuk diimplemetasikan. Dengan melalui pendidikan multikultural ini diharapkan peserta didik mampu memahami, menguasai, memiliki sikap yang baik dan mampu menerapkan nilai — nilai demokratis, humanism dan pluralisme baik didalam lingkungan sekolah maupun didalam lingkungan masyarakat. Diharapkan juga dengan adanya pendidikan multikultural ini kedepannya membuat bangsa Indonesia semakin erat bergandengan satu sama lain di atas keberagaman yang dimiliki.

Pembelajaran berbasis Multiktural

Illustration spongebob (perbedaan untuk menyatukan)

Pembelajaran berbasis multikultural berusaha memberdayakan siswa untuk mengembangkan rasa hormat kepada orang yang berbeda budaya, memberi kesempatan untuk bekerja bersama dengan orang atau kelompok orang yang berbeda etnis atau rasnya secara langsung. Pendidikan multikultural juga membantu siswa untuk mengakui ketepatan dar pandangan pandangan budaya yang beragam, membantu siswa dalam mengembangkan kebanggaan terhadap warisan budaya mereka, juga memberikan kesadaran diri siswa terhadap nilai-nilai keberbedaan dan keberagaman yang melekat pada kehidupan siswa lokal sebagai faktor yang sangat potensial dalam membangun cara pandang kebangsaan.

Menurut Banks, (1993) pembelajaran multikultural pada dasarnya merupakan program pendidikan bangsa agar komunitas multikultural dapat berpartisipasi dalam mewujudkan kehidupan demokrasi yang ideal bagi bangsanya.

Penerapan pendidikan multikulturalisme di sekolah antara lain: menyamaratakan hak dan kewajiban seluruh siswa di sekolah tanpa memandang perbedaan masing-masing siswa menanamkan sikap saling peduli dan toleransi antar siswa di sekolah.

Dengan kesadaran diri siswa terhadap nilai-nilai lokal, siswa di samping memiliki ketegaran dan ketangguhan secara pribadi, juga mampu melakukan pilihan-pilihan rasional (rational choice) ketika berhadapan dengan isu-isu lokal, nasional dan global. Siswa mampu menatap perspektif global sebagai suatu realitas yang tidak selalu dimaknai secara emosional, akan tetapi juga rasional serta tetap sadar akan jati diri bangsa dan negaranya. Kemampuan akademik tersebut, salah satu indikasinya ditampakkan oleh siswa dalam perolehan hasil pembelajaran yang dialami.

Model pembelajaran berbasis multikultural terdiri atas tujuh langkah:

1) analisis lingkungan multikultural,
2) profil lingkungan multikultural,
3) identifikasi mata pelajaran yang relevan dan potensial,
4) perumusan topik-topik pembelajaran multikultural,
5) penyusunan paket pembelajaran multikultiral,
6) pelaksanaan pembelajaran multikultural di
kelas dan
7) evaluasi dan refleksi.

Implementasi Multikultur dalam lingkungan sekolah SMP Model terpadu Madani

Pendidikan multikultural adalah strategi  pendidikan yang diaplikasikan pada semua jenis mata pelajaran dengan cara menggunakan perbedaan kultural yang ada para siswa, seperti perbedaan etnis, agama, bahasa, gender, kelas sosial, ras, kemampuan, dan umur agar proses belajar menjadi efektif dan mudah (Yaqin, 2005:25)

Yang mempertajam perbedaan itu ialah orang dewasa dengan berlatar belakang kepentingan politik – Daud Samara S.Pd., M.Pd

Perkembangan pendidikan yang semakin maju dan pesatnya, sekolah semakin banyak dan mudah diakses, setiap kota tumbuh sekolah- sekolah baru dengan karakter- karakter yang unik dan menonjol salah satunya adalah SMP Model Terpadu Madani. Dengan komitmen yang tinggi SMP Model Terpadu Madani mempunyai impian dan cita-cita untuk mengembangkan potensi anak-anak bangsa agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu,cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab dengan skill yang mumpuni.

Pendidikan multikultural menawarkan satu alternatif melalui penerapan strategis dan konsep pendidikan yang berbasis pada pemanfaatan keragaman yang ada dimasyarakat, khususnya yang ada pada siswa seperti pada keragaman etnis, budaya, bahasa, agama dan ras. Yang terpenting, strategi pendidikan ini tidak hanya bertujuan agar supaya siswa mudah memahami pelajaran yang dipelajarinya, akan tetapi juga untuk meningkatkan kesadaran mereka agar selalu berperilaku humanis, pluralis, dan demokratis.

Di SMP MODEL Terpadu Madani Implementasi pendidikan multiktural yang kami lihat 3 sisi yakni dari sisi HAM, Demokrasi dan Kebebasan dalam beragama. Di mana dalam perbedaan agama, ras, suku, budaya maupun etnis mereka bisa hidup berdampingan tanpa ada permasalah yang serius. Jika di kaji dalam sisi demokrasi nya terbukti mereka dapat menjalan kan dan melaksanakan demokrasi yang baik tanpa melihat suku dan agama nya, sebab pada pemilihan ketua osis yang dapat di ketahui bersama bahwa di SMP Model terpadu Madani itu mayoritas islam, namun ketua yg terpilih berasal dari agama Hindu mereka memilih ketua osis tidak berdasar kan agama, suku, ras, budaya mau pun etnis melainkan karena etos kerja calon pemimpin nya.

Mengenai Kebebasan Berkumpul dan Beragama bahwa :
1. Pada saat memasuki waktu ibadah, mereka semua saling mengingat kan dan tidak ad yang saling mengganggu
2. Untuk Masalah Diskriminasi itu tidak terjadi dalam sekolah karena mereka sejak awal masuk sudah ditekankan nilai-nilai toleransi dan saling menghargai
3. Dalam Impilementasi nilai-nilai keyakinan beragama masing-masing siswa difasilitasi oleh sekolah (ruangan ibadah)

Implementasi pendidikan multikultural dalam pembelajaran

PENDIDIKAN multikultural adalah sebuah proses penanaman cara hidup menghormati, tulus, dan toleran terhadap keanekaragaman budaya, agama yang hidup di tengah-tengah masyarakat plural (Introduction to multikultureal education, ed. Boston; Allyn & Bacon 2002).

Pendidikan multikultural (multicultural education) merupakan strategi pendidikan yang memanfaatkan ke-beragaman latar belakang kebudayaan dari para peserta didik sebagai salah satu kekuatan untuk membentuk sikap multikultural. Strategi ini sangat bermanfaat, sekurang-kurangnya bagi sekolah sebagai lembaga pendidikan dapat membentuk pemahaman bersama atas konsep kebudayaan, perbedaan budaya, keseimbangan, dan demokrasi dalam arti yang luas Dalam konteks keindonesiaan, pendidikan multikultural pada hakikatnya mencoba membantu menyatukan kesukuan, ras dan golongan secara lebih manusiawi, dengan menekankan pada perspektif pluralitas kemasyarakatan. Dengan demikian, sekolah dikondisikan untuk mencerminkan praktik dari nilai-nilai pluralitas.
Dalam konteks Indonesia, pendidikan multikultural menyentuh konteks-tualisasi kehidupan manusia Indonesia. Kesadaran bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang terdiri dari beragam suku, budya, agama, identitas, sejarah lingkungan, dan pengalaman hidup yang unik dan berbeda-beda. Perbedaan adalah identitas terpenting dan otentik setiap manusia daripada kesamaannya. Sudah saatnya kegiatan belajar-mengajar ditujukan agar peserta didik tidak hanya menguasai materi ilmu atau nilai, tetapi mengalami sendiri proses berilmu dan hidup dalam kebersamaan di ruang kelas dan sekolah.
Untuk itu, guru tidak lagi ditempatkan sebagai aktor tunggal terpenting sebagai kamus berjalan yang serba tahu dan serba bisa. Guru yang efisien dan produktif ialah jika ia bisa menciptakan situasi sehingga tiap peserta didik belajar dengan cara sendiri yang unik. Kelas disusun bukan untuk mengubur identitas personal, tetapi memperbesar peluang tiap peserta didik mengaktualisasikan diri masing-masing. Pendidikan sebagai transfer ilmu dan nilai tidak memadai, namun bagaimana tiap peserta didik menemukan dan mengalami situasi beriptek dan berkehidupan otentik. Guru tidak lagi sebagai gudang ilmu dan nilai yang tiap saat siap diberikan kepada peserta didik, tetapi sebagai teman dialog dan partner menciptakan situasi beriptek dan bersosial. Pembelajaran di kelas disusun sebagai simulasi kehidupan nyata sehingga peserta didik berpengalaman hidup sebagai warga masyarakat.
Kurikulum di persekolahan pun harus diracik se demikian rupa. Aneka kelompok budaya yang berbeda dalam masyarakat, bahasa, dan dialek di mana para pelajar lebih baik berbicara ten tang rasa hormat di antara mereka dan me nunjung tinggi nilai-nilai kerja sama, dari pada mem-bicarakan persaingan dan prasangka di antara sejumlah pelajar yang berbeda dalam hal ras, etnik, budaya dan kelompok status sosialnya perlu dimasukkan. Pendidikan berbasis multikultural didasar-kan pada gagasan filosofis tentang kebebasan, keadilan, kesederajatan dan perlindungan terhadap hak-hak manusia. Hakikat pendidikan multikultural mempersiapkan seluruh siswa untuk bekerja secara aktif menuju kesamaan struktur dalam organisasi dan lembaga sekolah. Pendidikan multikultural bukanlah kebijakan yang mengarah pada pelembagaan pendidikan dan pengajaran inklusif dan pengajaran oleh propaganda pluralisme lewat kurikulum yang berperan bagi kompetisi budaya individual.
Tujuan pendidikan berbasis multikultural di antaranya; (1) untuk memfungsikan peranan sekolah dalam memandang keberadaan siswa yang beraneka ragam; (2) untuk membantu
siswa dalam membangun perlakuan yang positif terhadap perbedaan kultural, ras, etnik, kelompok keagamaan; (3) memberikan ketahanan siswa dengan cara mengajar mereka dalam mengambil keputusan dan keterampilan sosialnya; (4) untuk membantu peserta didik dalam membangun ketergantungan lintas budaya dan memberi gambaran positif kepada mereka mengenai perbedaan kelompok

Sumber:
Mukodi (2012) konsep pendidikan berbasis multikultural: Jurnal penelitian pendidikan, Vol 4 (1) Hal 686
Winarto (2022) “pentingnya pendidikan mutikultural di sekolah” http://beritamagelang.id/pentingnya- pendidikan- multikuktural- di- sekolah, diakses pada 10 Desember 2022 pukul 10.27 WITA

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai